NDP BAB 1 Dasar-dasar Kepercayaan

 

Bertauhid[1]

Kalimat syahadat sejatinya adalah pengakuan ke-tauhid-an kita kepada Tuhan. Dimana kita mnegakui tidak ada bentuk kepercayaan yang patut disembah kecuali sumber kebenaran mutlak yaitu Tuhan. Sedangkan kalimat kedua mengaku ibahwa kebenaran tentangNya didapat melalui pendekatan wahyu lewat utusannya yaitu Nabi Muhammad.

Kita ketahui bahwa kebanyakan kita telah menganut islam sedari kecil. Sehingga islam menjadi agama yang dibawa oleh orang tua kita. eksesnya kita jarang mempertanyakan keislaman kita. menerima dan menjalankan rutinitas ibadahNya tanpa memahami esensi ibadah itu sendiri. sangat sia-sia sekali apabila itu yang dialami selama ini.

Namun, dituliskan pula bahwasanya sebelum roh ditiupkan ke tubuh kita, saat itulah kita dibaiat, berjanji dengan ke-tauhid-anNya. Pernahkah kita tergelitik bertanya kepada orang tua, mengapa ibu islam.  mengapa saya harus beragama. Mengapa harus islam.

Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab “ betul (Engkau Tuhan kamiku)”, kami bersaksi, (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: `Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). Al-Araf 172

Nabi Ibrahim tidak serta merta mengenal Tuhan. Namun melalui pencarian. Dari matahari, bintang, bulan, dan berakhir kepada Allah. Begitu juga teman-teman mualaf. Mereka mencari Tuhan melalui pergulatan batin hingga menemukan yang didamba “hidayah”. Begitu juga harusnya kita. menjadi islam sejak lahir bukan halangan untuk mempertanyakan ke-tauhid-an kita. kita tahu bahwa keimanan manusia bersifat fluktuatif. Kadang diatas tapi kebanyakan dibawah. Amalan yang dilakukan tak luput dari inkonsistensi kita. untuk itulah perlu diperbarui pengetahuan kita tentang beragama dan berislam. Ini akan bermuara mempertebal keyakinan, keislaman, dan keimanan kita. Tak lupa, sebagai perwujudan keyakinan akan adanya Allah adalah melalui pengabdian. Pengabdian kepada Allah berbentuk Peribadatan, Kepatuhan, dan ketaatan secara mutlak.

 

Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataanNya diwaktu dia mengatakan : “Jadilah lalu terjadi”, dan di tanganNyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup, dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

 

 

 

 

 


[1] Disampaikan dalam Kajian Nilai Dasar Perjuangan HMI Komisariat FISIP UNS, dengan pembicara kanda Anhar Widodo, S.sos. Jumat 29 November 2013. YAKUSA. Bidang PPA Kom FISIP UNS 2013-2014

 

PLAGIAT DALAM PERGURUAN TINGGI

Plagiat memiliki arti pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat) sendiri. Plagiat mencerminkan budaya meniru, menjiplak dan menghasilkan karya yang tidak orisinal.
Dalam acara diesnatalis UNS ke XXXVII Mahfud MD, ketua mahkamah konstitusi mendapatkan award 2013 “Parasamya Adi Karya Anugraha Yustisia Baraya”. dia membahas mengenai plagiarism. Menurutnya plagiarism merupakan embrio korupsi. dia mengatakan bahwa plagiarism merupakan bentuk awal dari tindak kecurangan yang dapat mengarah kepada indikasi korupsi. ketika seseorang mencuri karya orang lain bisa jadi kedepannya mencuri harta rakyat.
Banyak plagiarism ditemukan di berbagai perguruan tinggi. Oleh sebab itu, harus diperhatikan baik-baik segala hal yang berbau plagiat sedari dini. Dalam hal ini, UNS telah berhasil memacu dan memupuk mahasiswanya agar menghindari melakukan plagiat dalam mengerjakan tugas maupun menghasilkan karya ilmiah.
Tidak hanya itu, di segala tempat dalam kampus diberikan acuan bahwa menjiplak atau plagiat terhadap karya seseorang tanpa mencantumkan nama penulis merupakan tindak kecurangan, dan dapat diberikan sanksi terhadapnya.
Perang terhadap plagiarism merupakan komitmen dari seluruh universitas. Sebagai sanksi terberat dari tindak plagiat, adalah pencabutan titel akademis. Hal-hal tersebut haruslah diantisipasi mulai dari bagaimana cara menghasilkan karya yang orisinal, dan bagaimana akademis yang terkait mengarahkan mahasiswa dalam mengerjakan tugas maupun menghasilkan karya ilmiah yang orisinal .

Penulis adalah Bidang PTK HMI Komisariat FISIP UNS Periode 2011-2012

”Peningkatan Softskill Mahasiswa”

Di saat sistem perkuliahan seperti sekarang ini dimana para mahasiswa berpacu untuk dapat lulus kuliah cepat dengan hasil nilai yang bagus membuat mahasiswa hanya berfokus terhadap perkuliahan dan tugas kuliah saja. Dengan sistem perkuliahan tersebut maka muncul keengganan dikalangan mahasiswa dalam berorganisasi. Anggapan bahwa dengan berorganisasi hanya memperlama waktu perkuliahan serta hasil nilai yang kurang bagus menjadikan hanya sedikit mahasiswa yang mau aktif berorganisasi.
Dengan mengikuti organisasi mahasiswa (ormawa) justru mahasiswa dapat melatih softskill-nya yang dapat menunjang ilmu yang dikuasainya. Ilmu atau teori yang didapat dibangku perkuliahan dapat diterapkan di dalam organisasi mahasiswa (ormawa) yang diikutinya, dengan begitu mahasiswa memperoleh keduanya secara bersamaan.
Perlu adanya pengetahuan keuntungan yang didapat mahasiswa jika mereka mengikuti atau bergabung di organisasi mahasiswa (ormawa), apalagi dengan akan diterbitkannya lampiran transkip nilai kegiatan mahasiswa didalam ijazah. Kendati lampiran, transkrip tersebut dapat digunakan sebagai tambahan untuk menjadi pertimbangan saat melamar pekerjaan. Penerbitan transkip kegiatan mahasiswa ini baru dimulai pada tahun 2013/2014 namun dirasa perlu dari sekarang informasi ini diketahui oleh kalangan mahasiswa agar mereka mengerti keuntungan mengikuti ormawa.
Banyak sarjana yang meraih nilai kumulatif tinggi pada bidang keilmuannya namun sarjana tersebut belum tentu terampil saat diberi pekerjaan. memiliki kemampuan softskills yang memadai penting untung menunjang ilmu yang dikuasainya. Artinya semakin tinggi nilai softskill-nya, semakin terampil pula dalam bekerja.

Penulis adalah Bidang PTK HMI Komisariat FISIP UNS Periode 2011-2012

NDP Bab 7 (Kemanusian dan Ilmu Pengetahuan) Ilmu Pengetahuan dalam Islam

Ilmu Pengetahuan dalam Islam
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa dderajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan”. (Q.S Al Mujadilah ayat 11)
Kata ilmu sudah sangat sering kita dengar. Dimana pun dan kapan pun, bahkan kita dituntut untuk mencari ilmu sepanjang hidup kita. Saat ini, kata ilmu sudah banyak digabungkan dengan kata pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ilmu diartikan sebagai pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu. Sementara pengetahuan diartikan hanya sebatas apa yang diketahui oleh manusia atau hasil pekerjaan manusia menjadi tahu. Pengetahuan dapat berubah menjadi ilmu apabila memenuhi syarat-syarat: obyek kajian, metode pendekatan yang ilmiah, dan bersifat universal.
Ilmu pengetahuan merupakan karunia yang tak ternilai yang diberikan Allah kepada umat manusia. Perkembangan dunia saat ini di berbagai bidang kehidupan, tak lain adalah berkat adanya orang-orang yang selalu berusaha mengembangkan pengetahuan menjadi ilmu. Lalu bagaimanakah kedudukan ilmu pengetahuan dalam Islam?
Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam. Hal ini terbukti dengan banyaknya ayat dalam Al Qur’an yang menerangkan tentang ilmu. Bahkan dalam surat Al Mujadilah ayat 11 yang telah diterangkan diatas, Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu dibandingkan orang-orang yang tidak berilmu. Selain itu, Islam juga menganjurkan umatnya untuk selalu menuntut ilmu. Ilmu diperlukan untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran yang telah ditunjukkan oleh Allah S.W.T.
Lalu di masa yang modern ini, masih pentingkah kita mengembangkan ilmu pengetahuan? Dan apakah yang sudah kita lakukan sebagai manusia beriman untuk mengamalkan ilmu tersebut?
Selalu lah yakin dan berusaha untuk menjadi manusia yang terus belajar mengembangkan ilmu apapun yang kita miliki untuk kepentingan diri dan sesama. Karena ilmu tidak hanya untuk dimiliki, tetapi juga untuk dibagi. Tetaplah berilmu dan tetaplah berbagi.

Bidang PPA HMI Komisariat FISIP UNS
Periode 2011-2012

“ISLAM DAN BUDAYA POP”

Dewasa ini budaya pop makin tumbuh subur, didukung oleh media dan perkembangan teknologi. Penyebaran informasi yang semakin mudah pun turut serta mengalirkan budaya ini semakin meluas.
Budaya budaya yang bermunculan, namun tidak dapat di akomodir maupun tidak dapat masuk dalam budaya tinggi inilah yang akhirnya menumbuhkan budaya pop. Misalnya sekarang banyak kita jumpai lahirnya komunitas komunitas yang berusaha mengakomodir dakwah islam dengan mencampurkan budaya budaya pop agar memiliki kemasan yang semakin menarik sehingga akan menjadi daya kait tersendiri untuk kemudian bergabung mempelajari islam lebih jauh maupun pada tahap awal memiliki ketertarikan pada islam itu sendiri.
Dalam prakteknya media pun juga semakin gencar dalam mempromosikan budaya populer. Salah satunya adalah televisi, melalui tayangan-tayangan yang ditampilkan kemudian banyak yang terpengaruh hingga dijadikan sebagai kiblat panutan masyarakat. Lalu pada akhirnya, disadari atau tidak, masyarakat Indonesia banyak terpengaruhi oleh budaya populer yang didapatkan dari tayangan televisi.
Menurut Yasraf A Piliang, salah satu fisuf budaya mengungkapkan bahwa, ada pertarungan antara agama, negara dan budaya populer dalam membentuk karakter masyarakat. Ketika agama masuk ke dalam budaya populer, cenderung akan kehilangan kesakralannya.
Namun bukan berarti umat islam harus menolak budaya popular tersebut, tetapi umat islam jangan sampai terjebak pada budaya popular itu sendiri dan kehilangan esensi dari ajaran islam itu sendiri. Lalu apakah tantangan umat islam dalam menghadapi budaya popular tersebut. Dalam diskusi public ini akan mengupas bagaimana tantangan umat islam ditengah budaya popular, tanpa kehilangan esensi dari ajaran islam itu sendiri.

“Inspirasi Kartini, Kini hingga Nanti yang Bernafaskan Islam”

“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: Hamba Allah, Abdullah” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 1 Agustus 1903)
Petikan salah satu isi surat Kartini dalam Buku berjudul Door Duistermis tox Licht atau yang lebih kita kenal dengan “Habis Gelap, Terbitlah terang”. Dari kalimat tersebut, tersirat nilai-nilai islam dalam semangat perjuangan yang dimotori oleh seorang Kartini. Melihat latar belakangnya yang meskipun sebenarnya amatlah kental sebagai seorang wanita jawa, dan beberapa sumbagan dari bacaan dan pergaulannya yang luas juga membentuk Kartini menjadi seorang yang pluralis, liberalis. Ada beberapa hal yang kemudian mampu menjadi sebuah gambaran tentang sesuatu yang mesti sama harus dilakukan oleh setiap wanita dalam masa apapun. Dan kemudian pembelajaran apa yang bisa dimanifestasikan dari ‘diri dan apa yang telah diperbuat’ oleh Kartini, hingga kemudian ia memperoleh kehormatan bahwa tanggal kelahiranya menjadi sebuah hari tersendiri. Hari Kartini yang hanya diperingati dibumi Indonesia sejak 48 tahun lalu, dimana ditetapkan oleh presiden pertama Indonesia, Ir.Soekarno, pada 2 Mei 1964.
Sebagai Abdullah, manusia memiliki tugas hanya menyembahNYA, karena kedudukan manusia yang amatlah sangat kecil, dibanding dengan Alloh yang Maha Kuasa. Namun manusia juga masih memiliki tugas sebagai seorang khalifatullah, wakil Alloh dimuka bumi. Seperti dalam Al-Baqarah ayat 30, yang berisi bahwa manusia diutus sebagai seorang khalifah dimuka bumi, pengganti Alloh yang berkewajiban memakmurkan dan memelihara muka bumi ini, termasuk dapat dikaitkan memelihara manusia baik akidah maupun akhlagnya.
Sejarah yang kita baca, membawa kita kepada sosok seorang Kartini yang ikut melepaskan wanita Indonesia dari belenggu kebodohan atau kejahiliyahan. Kartini membuka sekolah untuk para gadis didaerah Jepara, Rembang, hingga kemudian langkah Kartini tersebut mengilhami pendirian-pendirian “Sekolah Kartini” di daerah-daerah lain, seperti Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, dll.
Sifat kritis yang dihasilkan dari kegiatan membaca, menulis dan berdiskusinya, membentuk pemikiran-pemikiran tentang sebuah kesetaraan yang akhirnya disebut emansipasi wanita, pendidikan yang seharusnya diperoleh wanita yang kala itu harus terpenjara akan sebuah tradisi dan budaya patriarki, dan pertanyaan-pertanyaan besar yang membakar semangatnya untuk terus mencari dan melakukan ‘apa yang harus diperoleh dan layak diperjuangkan oleh wanita’. Apa yang telah dilakukan oleh Kartini bisa dikategorikan sebuah upaya tabligh ‘menyampaikan’, ataupun membagi ilmu untuk mencerdaskan kaumnya, sebuah langkah yang dimulai dari yang paling dekat tanpa perlu memangkul senjata seperti Pahlawan wanita lain yang pemberani seperti Cut Nyak Dien, Cut Mutia, Dewi Sartika, dsb. Kartini memerangi kebodohan dan berusaha mengangkat derajat wanita Indonesia pada masa itu, yang sebelumnya juga telah diperjuangkan oleh Islam, agama yang begitu memuliakan wanita.
Melihat kondisi masa kini, yang wanita dengan begitu merdeka mengenyam pendidikan dan kesempatan yang sama dalam berbagai hal, tentunya wanita dapat membawa semangat Kartini untuk selalu berusaha mencerdaskan diri dan yang terpenting adalah berusaha untuk terus mampu menginspirasi. Misalnya dalam hal keuangan keluarga sebuah study di Amerika menunjukkan bahwa women mengontrol 88% purchase, wanita tidak hanya menjadi pendorong, namun wanita kini dianggap sudah menjadi penentu. Dengan dianggap membaiknya peran wanita makin dihargai dan kemudian diikuti keputusan-keputusan dari seorang wanita, seharusnya peran wanita yang sesungguhnya, ‘sesuai kodrat manusia’ juga membaik. Namun nyatanya apa yang dapat dilihat di masa ini, beberapa hal yang jauh dari sifat khalifah terjadi, banyak perusakan bumi, ketidakadilan, kasus-kasus korupsi, maraknya kejahatan, dll, seolah menunjukkan bahwa rusaknya akhlag hingga akidah manusia sedang terjadi, dan menuju kearah yang amat sangat memprihatinkan.
Pernah mendengar bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok?. Itu menguatkan sebuah tugas mulia seorang wanita yang Alloh gariskan untuk melindungi dada manusia. Di dalam dada wanita tersimpan sifat perasa, lemah lembut dan penuh kasih-sayang. Tulang rusuk yang bengkok akan patah jika diluruskan ini juga memiliki makna bahwa jika sifat-sifat itu berubah maka wanita akan rusak. Wanita dikarunia sifat-sifat tersebut bukan tanpa tujuan, namun itu merupakan sebuah kelebihan untuk mendidik juga menebarkan sifat kasih sayang, bengkok untuk mudah menunduk dan mampu memeluk. Dan bukankah kualitas sebuah generasi, juga bergantung pada kualitas dari wanita pada masa itu, ‘kehancuran sebuah negara, ditentukan oleh kondisi para wanitanya’. Juga tentang bagaimana seorang wanita dengan kecerdasannya memberi pondasi yang kokoh kepada anak-anak bangsa sehingga anak dengan secara sadar melakukan atau kemudian tidak melakukan suatu hal, karena orang yang mereka paling percaya, orang yang paling pertama ia naungi dan jumpai, sudah mematrikan itu, ibunda mereka.
Dalam memberi balasan Alloh tidak melihat bahwa apakah amal saleh itu dikerjakan oleh lelaki ataupun perempuan (An Nahl ayat 97). Maka dari itu derajat semua manusia sebenarnya sama di mata Alloh, yang membedakannya hanyalah iman. Selain memerangi kebodohan, semangat yang perlu diteladani dari Kartini adalah mencari dan membagi ilmu. Alloh sudah berjanji dalam firmannya akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu, dan kelak pahala yang tak hentinya-hentinya mengalir sekalipun manusia sudah diliang lahat adalah amal jariyah, anak yang soleh, dan ilmu yang bermanfaat.

penulis adalah Farida Isfandiari, Ketua Bidang Pengembangan Umat HMI FISIP UNS

KARTINI INI

Sudah 134 tahun yang lalu Kartini dilahirkan di Hindia Belanda, tempat yang menjadi embrio sebuah negara kaya, subur, dan melimpah kekayaan alamnya. Kartini merupakan sosok pemula dari sejarah modern Indonesia, dia memiliki kesadaran nasional pertama ketika kita melihat sejarah pergerakan nasional Indonesia. Terlihat dari surat-surat Kartini yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1911 di Semarang, Surabaya dan Den Hag saat itu, sehingga menyebabkan kegemparan di Belanda serta Hindia Belanda, terutama kaum Totok serta Indo (Totok: keturunan Eropa murni, Indo: keturunan Eropa campuran), yang saat itu masih menganggap kaum pribumi masih golongan yang belum beradab, apalagi seorang wanita!, dimana Kartini mempunyai pemikiran yang begitu cemerlang dan berbahasa bahasa mereka.
Saya sendiri masih mengagumi pemikiran kartini ketika membaca surat-suratnya, berikut saya tuliskan salah satu dari surat-surat Kartini:
Malulah aku terhadap keangkaraanku. Aku renungi dan pikirkan keadaanku sendiri, di luar sana begitu banyak derita dan kemelaratan melingkungi kami! Seketika itu juga seakan udara menggetar oleh ratapan tangis, erang dan rintih orang-orang sekelilingku. Dan lebih keras dari pada erang rintih itu, mendesing dan menderu di kupingku: Kerja! Kerja! Kerja! Perjuangkan kebebasanmu! Baru kemudian kalau kau telah bebaskan dirimu sendiri dengan kerja, dapatlah kau menolong yang lain! Kerja! Kerja! Aku dengar itu begitu jelas, nampak tertulis di depan mataku…. (Surat, 8 April 1902, kepada nyonya Abendanon. Dikutip dari Panggil Aku Kartini Saja, Karya Premoedya Ananta Toer).
Dari surat kartini tersebut terlihat pandangannya tentang perasaan kemanusiaan, dimana dari sisi lain adat feodal negrinya memaksa untuk terpisah dari rakyat jelata. Meskipun hidup terpisah dari rakyat jelata,tetapi hatinya berada dengan mereka, dan pikirannya diperas untuk mereka.
Ketika kita melihat posisi Kartini di Indonesia sebagai pahlawan nasional, ada beberapa pandangan mengenainya, dari pihak Belanda sendiri menganggap Kartini merupakan contoh terbaik dari didikannya yang diberikan kepada bangsa jajahannya, yang dianggap berhasil dari usaha pihak Belanda mengadabkan bangsa Indonesia. Dari pihak Indonesia sendiri sebenarnya terdapat dua pendapat, pendapat yang pertama merupakan golongan yang ragu-ragu menerima Kartini, karena wanita itu tidak lain adalah orang Belanda, hanya raganya yang orang pribumi, pendapat yang kedua adalah pihak yang tanpa kecurigaan menerima Kartini sebagai pahlawan bangsanya.
Terlepas dari berbagai pandangan yang ada mengenai posisi Kartini, sisi positif dari pemikiran-pemikiran yang tertuang dalam surat-suratnya bisa sangat kita apresiasi, bagi Kartini sendiri sudah jelas “Tujuan adalah Rakyat”, pemikirannya masih bisa menjadi inspirator untuk bangsa Indonesia saat ini, jangan sampai Kartini hanya dijadikan simbolis yang coba dihidupkan sekali setahun.
*Penulis adalah Yusuf Hidayatullah Ketua Umum HMI Cabang Surakarta Komisariat Fisip UNS Periode: 2011-2012

Yakin Usaha Sampai

%d blogger menyukai ini: