Tentang Selembar Pamplet

by: Qurrota A’yunin Rusal

Pamplet adalah benda yang paling mudah ditemukan dimanapun kita berada. baik di jalan, digedung, dan tentunya di banyak tempat. Kata semua tempat kurang tepat digunakan, karna mungkin sebagian akan protes karna mereka akan susah/tidak menemukan benda ini di laut, di hutan, di gurun dll.

Ada banyak ragam dan rupanya, serta dengan berbagai bentuk ukuran, ada yang besar dan ada yang kecil. Fungsinya dalam menyampaiakan informasi menjadi berharga bagi kehidupan manusia. Tetapi nasibnya tak selalu di atas kadang dia menjadi musuh karna merusak kecantikan jalan dan bangunan akibat penempatannya yang sembarangan, ya….meski bukan kesalahannya bukan?

Tentang sebuah pamplet adalah salah satu awalan, dimana saya ingin menulis tentang seberapa besar perasaan akan nasib organisasi yang kucintai. Dari sebuah perasaan yang serasa menghantam hati, membuka keran air mata dan mengobarkan semangat dan selalu mengusik pemikiranku saat berjalan di lorong-lorong bangunan kampus, kantin dan banyak tempat yang lain. Sebuah perasaan yang timbul tanpa kusadari dan menimbulkan pertanyaan besar, Kenapa harus Pamplet?????

Pernahkah terpikir bahwa dari pamplet kita akan dapat membaca banyak hal selain informasi yang nyata-nyata tertulis di atasnya????? Khususnya jika dibatasi pada permasalahan organisasi extra kampus. Organisasi yang saat ini sedang menghadapi krisis kader, baik kader aktif maupun pasif, sikap apatisme, dan penolakan banyak pihak. Ini adalah suatu pertanda dimana komunikasi yang ada tidak berjalan baik dan pesan yang ingin disampaikan tidak pernah sampai atau menghasilkan efek sehingga timbulah efek di atas.

HMI dan Pamplet

Pada training SC di solo yang lalu yang mengangkat tema pengkaderan mungkin hal ini tidak masuk dalam bagaian dari ilmu karna tentunya ilmu yang diberikan dan di atur MOT sudah tinggi sehingga hal kecil ini bagaikan debu di tengahnya. Tapi yang pasti hati saya berkata pengkaderan HMI gagal diawali dari pamplet.

Setiap kali memandangi papan pengumuman di kampus rasanya sedih sekali melihat pamplet yang dibawahnya di tulis presented by HMI FISIP UNS. Terlebih lagi jika berhubungan dengan adanya pengunguman LK1, saya hanya berpikir bagaimana pamplet ini bisa menjadi garda depan pengkaderan kita jika bentuknya seperti itu. Di nilai dari sisi grafis jauh sekali dikatakan memiliki artistik, belum lagi penggunaan kertas yang seringkali hanya berupa fotocopy dengan HVS dan HVS berwarna yang terbaik yang pernah saya lihat. Ini terjadi tidak hanya pada LK1 tapi juga pada saat pemira……………..

Bandingkan dengan K***I organisasi tetangga, rasanya sedih bercampur iri, dimana pamplet mereka bisa dikatakan baik dari segi ilmu periklanan. Sisi artistik dan penggunaan kata-katanya sungguh atraktif dan nilai plus lainnya adalah penggunaan kertas yang sering kali hasil percetakkan, sama seperti dalam membuat iklan perusahaan produk.

Pamplet ibarat baju bagi manusia, percaya atau tidak bahwa orang lain seringkali menilai dari penampilan. Seperti saat kita akan tes wawancara kerja, karna pakaian cerminan dari profesionalisme dll (meski tidak semua benar) untuk itulah pamplet yang menarik dibutuhkan karna ini adalah cerminan dari organisasi kita oleh orang lain.

Kita tak mungkin selamanya mengandalkan menarik kader dengan sistem curi/ambil ala mas eko, karna jika kader masuk tanpa ketertarikan akan membutuhkan proses yang lama itupun juga masih bergantung pada sikon yang ada. Atau sistem figur yang akhirnya seringkali kader hilang bersama perginya figur untuk melanjutkan masa depannya. Mengharapkan kader yang kritis dan berbakat seperti mas febrie, di masa ini hanya 1 ditengah ribuan mahasiswa. Inilah yang menyebabkan saya ingin menulis bahwa kita butuh alternatif lain dan pamplet adalah salah satunya.

Selain itu keuntungan yang dapat diperoleh dari pamplet yang baik adalah jika kita tidak dapat kader maka kita dapat memperoleh citra yang baik ditengah mahasiswa yang semakin tak peduli akan organisasi khususnya extra kampus semisal berupa dukungan ketika adanya Pemira.

Ketika kembali merenungkan lebih dalam, salah satu faktornya adalah pada permasalahan biaya pembuatan. Sebagai salah satu orang yang pernah bergerak dibidang ekonomi komisariat, faktor ini memang sangat dominan. Namun saya yakin ini dapat di atasi selama ada tekad yang kuat. Dan saya hanya berharap HMI dapat terus maju demi mengembangkan bangsa ini. Amin…….

2 Tanggapan to this post.

  1. Kader-kader HMI kurang kreatif. Kreatiflah sedikit dalam bertindak. Insya Allah sukses.

    Balas

  2. Posted by masmpep on Desember 17, 2008 at 6:33 am

    hei, hei, hei, opo iki aku kok disebut2? kapan kometarmu. ditunggu lho via email.

    soal pamp(f)let. memang iya. kita gak punya banyak sumber daya soal urusan beginian. sepanjang pengetahuan saya, memang hanya beberapa gelintir kader kita yang berbakat di dunia komputer (soal membuat pamflet menarik atau tidak, belum dibuktikan). kalau menyebut nama–ninin yang mulai–ada beberapa, misalnya bung ressay yang juga blogger hijau hitam, untuk komisariat misalnya bung eko–sekarang jadi juragan warnet, atau kamerad rahmad–biasanya berisi agitasi yang ‘menghanyutkan’.

    Balas

Tanggapi posting ini