SALES POLITIK

Oleh: Eko Setiawan*

Angin surga demokrasi yang berhembus di Indonesia satu dekade terakhir memang membuka jalan bagi siapapun yang ingin terjun bidang politik. Setelah tren para pengusaha yang banting stir menjadi penguasa, nampaknya sekarang giliran para artis yang merambah dunia yang katanya penuh lumpur ini. Di Indonesia, fenomena ini agaknya mulai marak setelah reformasi bergulir. Sebut saja Adjie Massaid atau Angelina Sondakh yang berhasil merebut kursi wakil rakyat.

Menjelang Pemilu 2009 fenomena ini semakin semarak, beberapa public figure bahkan menduduki posisi penting di beberapa partai politik, katakanlah Sys NS yang menjadi Ketua Umum Partai NKRI setelah sebelumnya menjadi pengurus DPP Partai Demokrat atau Rieke Dyah “Oneng” Pitaloka yang menjadi pengurus DPP PDI Perjuangan Bidang Perempuan dan Pemberdayaan Masyarakat setelah sebelumnya menjadi Wakil Sekretaris Jenderal DPP PKB. Selain menduduki posisi penting di partai politik, beberapa yang lain malah selangkah lebih maju dengan mencoba bertarung memperebutkan kursi eksekutif di beberapa Pilkada. Poppy Dharsono mencoba maju sebagai Calon Gubernur Jawa Tengah atau Rano Karno yang berhasil merebut kursi Wakil Bupati Tangerang.

Melihat fakta-fakta diatas, sebenarnya ada efek domino yang sekiranya membuat kita layak khawatir. Pertama, partai politik menderita impotensi politik. Dalam Dasar-Dasar Ilmu Politik (1972), Miriam Budiarjo memaparkan bahwa salah satu fungsi partai politik adalah rekruitmen politik kader-kader muda untuk dididik yang kelak akan menggantikan pemimpin lama. Terlihat jelas bahwa partai politik tidak mampu melahirkan kader-kader yang berkualitas padahal hajatan pilkada terjadi hampir tiap bulan dan Pemilu 2009 sudah didepan mata. Tidak ada jalan lain kecuali merekrut orang-orang yang sudah kadung populer untuk meraup pundi-pundi suara. Siapa mereka? Artis-artis yang tiap hari menghias layar kaca menjadi jawabnya.

Kedua, dampak dari impotensi partai politik adalah keterlibatan artis di panggung politik tidak lebih sebagai sales politik. Tanpa bermaksud meremehkan kemampuan para artis dalam berpolitik, namun gambaran yang hadir di masyarakat—setidaknya yang digambarkan media—menunjukkan bahwa peran para artis masih terbatas sebagai ”tukang promosi” agar partai lebih populer. Ketiga, efek domino selanjutnya dan mungkin yang paling besar pengaruhnya adalah pembodohan masyarakat. Keterlibatan artis yang hanya sebagai sales politik membuat masyarakat akan memilih partai yang didukung artis tersebut bukan karena kinerja partai namun karena artis idolanya adalah pengurus partai tersebut. Selintas hal ini tidak mempunyai efek besar, namun jika mau meneropong jauh kedepan, pemilih di Indonesia akan terlambat dewasa dan akan semakin tidak rasional dalam menentukan pilihan.

Dengan semikian, sudah saatnya lah artis-artis yang pindah pentas ke panggung politik untuk membuktikan diri jika mereka masuk ke dunia politik bukan karena popularitas mereka melainkan karena kapabilitas mereka dalam berpolitik. Akhirnya, kita semua berharap agar bangsa ini semakin dewasa dengan pilihan yang rasional dan berharap para artis bukan hanya sekedar sales politik.

*Penulis adalah Sekretaris Umum HMI Komisariat FISIP UNS

Tanggapi posting ini