MELAWAN KEBODOHAN

NDP (Nilai Dasar Perjuangan) merupakan salah satu pondasi di tubuh HMI yang sepatutnya dipahami oleh setiap kadernya. Hal ini menjadi sangat penting mengingat kultur di HMI adalah kultur yang berpegang teguh pada aturan-aturan yang ada secara kuat (fundamentalis). Belajar NDP akan membentuk pola pikir HMI itu sendiri. Maka, untuk memahami HMI tidak akan bisa dilepaskan dari pemahaman tentang NDP itu sendiri.

Dalam lambang HMI terdapat simbol nilai HMI yang khas. Yaitu Ilmu, Iman, dan Amal. Hal ini diperlihatkan pada lambang HMI yang mempunyai tiga puncak. Paradigma ini cocok diterapkan jika kita ingin belajar tentang Islam. Untuk mengenal Islam tidak hanya dibutuhkan akal atau kecerdasan semata. Tetapi juga harus ditopang dengan keyakinan yang kuat serta pengamalan dari ajaran-ajaran Islam itu sendiri. Kepercayaan yang kuat pada nilai-nilai ajaran Islam bisa disebut dengan Iman. Dasar-dasar kepercayaan dalam Islam juga menjadi poin penting dalam NDP HMI. Hal ini tertuang dalam NDP pada bab 2.

Iman mempunyai karakteristik yang unik. Yaitu diucapkan dengan lesan, diyakini dalam hati, dan diamalkan lewat perbuatan. Iman adalah nilai yang sangat penting dalam Islam. Sehingga sangat penting untuk memahami iman secara mendalam agar kita bisa mengenal Islam secara benar dan utuh. Maka tidak heran, jika seorang muslim senantiasa dituntut untuk belajar. Belajar tentang Islam, Iman, maupun masalah-masalah yang lain. Sebab dengan ilmu pengetahuan, seseorang akan mampu menemukan kebenaran serta membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Tanpa ilmu pengetahuan, seseorang dapat melakukan kesalahan yang mungkin tidak disadarinya. Misalnya seseorang yang tidak tahu ilmu sholat, tidak akan bisa melakukan ibadah secara benar seperti yang diajarkan dalam Islam. Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.

Dalam Islam, orang-orang yang berilmu ditinggikan beberapa derajat dibandingkan dengan orang yang kurang berpengetahuan. Belajar dalam hal ini tidak dibatasi dalam masalah agama saja, tetapi juga termasuk masalah duniawi. Sebab keseimbangan dalam Islam bisa digambarkan sebagai proporsi yang sebanding antara masalah duniawi dan ukhrowi. Bukan lebih berat di salah satu aspek saja. Kesuksesan seorang muslim adalah gambaran sukses dunia dan akhirat.

Namun untuk mempelajari Islam tidak dapat mengandalkan kemampuan berpikir atau logika saja. Sebab, harus diakui bahwa kemampuan berpikir manusia terbatas. Dalam Islam dibutuhkan kepercayaan atau keimanan yang mantap. Hal ini dapat terkait tentang keyakinan kita terhadap hal-hal di luar dunia materialistik manusia atau hal-hal ghoib. Sebab jika berbicara tentang hal-hal ghoib tidak bisa mengandalkan logika saja. Tetapi juga dibutuhkan pengetahuan dan keyakinan yang mantap akan hal tersebut. Sebagai contoh jika kita membicarakan tentang akal. Kita percaya bahwa akal itu ada, tetapi akan kesulitan jika harus mencari wujud fisik(materi) dari tersebut. Kalau misalkan ada pendapat bahwa akal itu ada di dalam kepala manusia sekalipun, kita akan masih kesulitan dalam mencari bukti-bukti fisik adanya akal. Sebab kalau kita bedah kepala manusia, kita akan menemukan wujud fisik otak manusia, bukan akal itu sendiri.

Sebagai penutup, saya merasa yakin bahwa manusia hanya bisa hidup jika menggunakan akalnya secara optimal. Jika tidak, maka tentu tidak akan ada perbedaan pola hidup antara manusia dengan binatang. Dengan berpikir dan belajar terus menerus seseorang akan mampu menemukan kebenaran. Dan jika manusia mampu menemukan kebenaran yang hakiki, dia akan mapu menemukan Islam itu sendiri. Kebenaran akan menuntunnya kepada realitas yang berwujud materi maupun non materi(ghoib). Jadi, tunggu apa lagi??? Mari berpikir, berpikir, dan berpikir! Mari belajar, belajar, dan belajar! Mari melawan kebodohan! Salam YAKUSA (Yakin, Usaha, Sampai).

Satu Tanggapan to this post.

  1. Posted by antobem on Desember 6, 2008 at 5:28 am

    siapapun kitta.
    dari manapun kitta
    mari lawan segala penindasan

    Balas

Tanggapi posting ini